UINSA Bantu Kampoeng Oase Ondomohen Perkuat Branding Wisata Lewat Signage dan Digitalisasi

SURABAYA, SJP – Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mendorong penguatan identitas dan branding wisata Kampoeng Oase Ondomohen, Ketabang, Genteng, Surabaya, melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk ARCHFACE (Architecture for Community Identity and Environmental Branding).

Kegiatan yang melibatkan sekitar 50 mahasiswa tersebut digelar pada Senin (10/8/2026). Dihadiri Lurah Ketabang Lutfan Adie Wibowo, bersama pengelola Kampoeng Oase Ondomohen dan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengembangkan sejumlah media pengenalan kampung, mulai dari perakitan signage hingga pelatihan penggunaan aplikasi Canva bagi masyarakat.

Dosen pendamping ARCHFACE, Efa Suriani, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya dosen dan mahasiswa untuk memberikan dampak kepada masyarakat, khususnya dengan membantu Kampoeng Oase Ondomohen agar lebih dikenal.

“Tujuannya untuk branding kampung ini, supaya bisa lebih dikenal di masyarakat,” ujar Efa usai acara, Senin (10/8/2026).

Menurut Efa, kegiatan serupa sebelumnya juga telah beberapa kali dilakukan. Namun, pada kegiatan kali ini, mahasiswa memfokuskan program pada pembuatan papan petunjuk sekaligus pelatihan aplikasi Canva yang dapat digunakan masyarakat melalui telepon seluler.

Efa menjelaskan, interaksi dengan perangkat dan masyarakat kampung juga membuka temuan baru mengenai berbagai potensi yang masih dapat dikembangkan. Salah satunya adalah kebutuhan terhadap digitalisasi. Selain itu, berbagai persoalan yang ditemukan di kampung berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi bahan tugas akhir mahasiswa Arsitektur UINSA.

“Ketika kita ngobrol dengan perangkat desa, ternyata banyak potensi-potensi yang ke depannya bisa dikembangkan, karena itu kita disini ingin mendorong branding melalui digitalisasi,” ujar Efa.

Ia menambahkan, kondisi demografis masyarakat yang banyak dihuni warga lanjut usia juga menjadi pertimbangan untuk pengembangan program berikutnya. Karena itu, kebutuhan masyarakat akan kembali digali agar program pengabdian berikutnya dapat lebih tepat sasaran.

Menurut Efa, penguatan branding tersebut diharapkan mampu mengangkat sejumlah potensi Kampoeng Oase Ondomohen, mulai dari UMKM kue tradisional, pembuatan kemasan untuk serahan pernikahan, ikan yang berada di kolam gendong, hingga potensi wisata kampung.

Ketua Pelaksana ARCHFACE, Muhammad Daffa Firjatullah, mengatakan kegiatan kali ini memiliki dua agenda utama, yakni pelatihan Canva dan perakitan signage.

Pembuatan signage berangkat dari hasil survei mahasiswa yang menemukan sejumlah titik menarik di Kampoeng Oase Ondomohen. Namun, berbagai fasilitas tersebut belum tentu langsung dipahami oleh pengunjung yang datang dari luar.

Daffa mencontohkan keberadaan hidroponik, maggot BSF, hingga kolam gendong yang berpotensi menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Kami masih bertanya-tanya ini itu apa, kolam gendong itu apa, maggot BSF itu apa, dan lainnya,” kata Daffa.

Karena itu, signage dirancang sebagai media informasi yang membantu wisatawan maupun orang yang melakukan studi di kampung tersebut untuk memahami berbagai potensi yang ada.

Salah satu inovasinya, signage akan dilengkapi barcode yang dapat dipindai pengunjung untuk memperoleh video penjelasan mengenai objek yang ditampilkan. Pada signage kolam gendong, misalnya, informasi digital nantinya dapat menjelaskan jenis ikan, konsep kolam gendong, serta manfaatnya.

“Inginnya nanti adanya signage ini bisa menjadi salah satu media bantu bagi para wisatawan atau teman-teman yang ingin melakukan studi di sini,” ujarnya.

Secara keseluruhan, terdapat rencana sekitar 12 signage dan satu signage berukuran besar. Namun, pada tahap awal mahasiswa baru membuat enam signage. Menurut Daffa, pembagian tahap tersebut sengaja dilakukan agar program dapat diteruskan oleh mahasiswa pada periode berikutnya.

Dari sisi material, mahasiswa memilih PVC board sebagai media papan karena dinilai lebih sesuai untuk penggunaan luar ruang. Material tersebut dianggap lebih tahan terhadap cuaca dan air serta tidak mudah lapuk, terkena lumut, maupun rayap seperti material kayu.

Mahasiswa juga menggunakan material yang relatif terjangkau agar nantinya dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat.

“Kita nggak bikin dari material-material yang harganya di atas, tapi kita bikin material yang sekiranya bisa dijangkau sama warga Kampoeng Oase Ondomohen,” jelas Daffa.

Selain signage, mahasiswa juga mengembangkan konsep mural berdasarkan hasil diskusi dengan warga. Rencana awal untuk melukis mural langsung di tembok kemudian diubah agar desain dapat dipindahkan ke lokasi lain sesuai kebutuhan kampung.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya pelibatan warga dalam proses perancangan. Mahasiswa tidak hanya membawa konsep yang telah ditentukan, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Daffa menegaskan, kegiatan tersebut juga tidak diharapkan berhenti setelah pelaksanaan kali ini.

“Kita di sini tuh nggak hanya sekali, kalau bisa kita di sini tuh berkali-kali, agar dampak yang kita berikan itu juga lebih maksimal kepada masyarakat,” tuturnya.

Ketua Kampoeng Oase Ondomohen, Mus Mulyono, menyambut program tersebut meski mengakui digitalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian warga, terutama mereka yang telah berusia lanjut.

Namun, menurut Mus, kehadiran mahasiswa tetap memberikan tambahan pengetahuan sekaligus mendukung cita-cita kampung untuk berkembang sebagai kampung wisata edukasi.

“Semakin menambah keilmuan, tentu menjadi semangat kami juga sebagai warga Kampoeng Oase Ondomohen,” katanya.

Mus menilai masuknya pengetahuan dan keilmuan dari mahasiswa dapat menjadi modal bagi warga untuk terus berkarya sekaligus mempertahankan lingkungan yang selama ini telah dirawat.

Bagi warga, kehadiran mahasiswa Arsitektur UINSA tidak hanya memberikan hasil fisik berupa signage. Lebih jauh, kegiatan tersebut mempertemukan kebutuhan kampung dengan keilmuan mahasiswa yang dapat dikembangkan melalui berbagai program berikutnya.

Sementara itu, Pembina Kampoeng Oase Ondomohen, Adi Candra, menilai kehadiran mahasiswa UINSA memberikan dorongan baru bagi kampung untuk mulai lebih serius memperhatikan branding dan digitalisasi.

Ia menyebut kegiatan ARCHFACE sebagai energi baru bagi Kampoeng Oase Ondomohen yang selama ini masih menghadapi keterbatasan dalam dua aspek tersebut.

“Ini sebetulnya peluru baru, energi baru bagi kami yang di Kampoeng Oase Ondomohen,” ujar Adi.

Menurut Adi, branding menjadi pintu masuk agar Kampoeng Oase Ondomohen dapat dikenal lebih luas. Namun, setelah identitas kampung semakin dikenal, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutannya.

Ia berharap penguatan branding dapat membuka peluang datangnya wisatawan dari dalam maupun luar negeri sekaligus memberikan manfaat bagi potensi yang telah dikembangkan warga.

“Branding itu adalah menjadi pintu masuk supaya kita bisa dikenal di khalayak luas,” katanya.

Di sisi lain, Adi mengakui kesiapan digitalisasi masih menjadi tantangan karena sebagian besar warga Kampoeng Oase Ondomohen merupakan kelompok senior. Kehadiran mahasiswa dinilai dapat melengkapi keterbatasan tersebut melalui pengetahuan dan kemampuan digital yang mereka miliki.

Tidak sendiri, sebagai pembina kampung, Adi juga kerap berkolaborasi dengan mahasiswa lintas universitas dalam program magang. Dalam kegiatan kali ini, Adi didampingi oleh beberapa mahasiswa yang menjadi tim kreatif, diantaranya:

  1. Al Ilham Budi Aradea, D3 Agribisnis, Universitas Sebelas Maret
  2. Farisa Lailatul Azahra, D3 Agribisnis, Universitas Sebelas Maret
  3. Najwa Syarifah, S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Surabaya
  4. Mega Setia Ningrum, S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Surabaya
  5. Septiani Nur Khasanah, S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Surabaya
  6. Nur Mazaya Hurrin ‘Ain, S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Surabaya
  7. Silvi Nathanandya Dalem, S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Surabaya 

Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa menjadi penting untuk memastikan upaya pengembangan kampung tidak berhenti pada satu kegiatan.

“Kami saat ini sedang memperjuangkan keberlanjutan itu nyata dan keberlanjutan itu ada di Kampoeng Oase Ondomohen,” pungkas Adi.

Kegiatan itu juga didukung penuh oleh HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group , PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur , Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia. (**) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>