30 Hektare Hutan di Ngawi Terbakar Selama Musim Musim Kemarau

NGAWI, SJP — Ancaman cuaca ekstrem El Nino Godzilla pada musim kemarau 2026 tidak meruntuhkan kesiapsiagaan pengelolaan kawasan hutan di Kabupaten Ngawi. 

Melalui penerapan taktik pencegahan berupa pembersihan terukur (ilaran) serta teknik “bakar terbalik”, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi berhasil meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sepanjang musim kemarau tahun ini, Perhutani KPH Ngawi mencatat akumulasi luas area hutan yang terbakar berada di angka sekitar 30 hektare. Luasan tersebut tersebar di beberapa titik dengan skala dampak yang relatif kecil dan cepat teratasi.

Administratur Perhutani KPH Ngawi, Mukhlisin, menerangkan bahwa karakter alami hutan jati pada musim kemarau secara otomatis meningkatkan potensi kerawanan kebakaran. Karakteristik pohon jati yang menggugurkan daunnya untuk beradaptasi dengan kondisi kering memicu penumpukan serasah tebal di lantai hutan.

“Karakteristik hutan jati itu pada saat musim kemarau menggugurkan daunnya untuk bertahan hidup. Akibatnya, ada potensi serasah yang cukup banyak dan mudah terbakar,” kata Mukhlisin pada Sabtu (5/9/2026).

Mukhlisin merinci bahwa terjadinya kebakaran hutan selalu melibatkan tiga faktor utama, yakni keberadaan bahan mudah terbakar, kondisi iklim yang kering berdaur suhu tinggi, serta adanya faktor pemantik. Faktor pemicu tersebut dapat berasal dari aktivitas manusia maupun fenomena alam tak terduga.

“Faktor pemicunya bisa faktor alam, misalnya botol pecah model cembung yang terkena sinar matahari sehingga bisa menimbulkan titik api tetapi bisa juga ada oknum masyarakat yang sengaja melakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran,” ujar Mukhlisin.

Sebagai langkah antisipasi proaktif, Perhutani KPH Ngawi menyiagakan kekuatan penuh dari Brigade Karhutla yang berkekuatan 160 personel internal, didukung oleh jaringan masyarakat lokal yang terhimpun dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Selain kesiapan personel, pemetaan dan rekayasa jalur sekat bakar juga difokuskan pada kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan jalur lalu lintas umum guna mencegah bahaya dari kelalaian pengguna jalan, seperti pembuangan puntung rokok sembarangan.

“Pada titik-titik strategis yang dilintasi masyarakat kita melakukan ilaran karena serasah cukup padat, kita lakukan bakar terbalik secara terukur,” tegas Mukhlisin.

Mukhlisin mengapresiasi efektivitas langkah pencegahan dan respons cepat tim di lapangan. Kendati cuaca kemarau tahun ini tergolong ekstrem, dampak kebakaran di kawasan KPH Ngawi terbukti jauh lebih terkendali.

“Walaupun saat ini El Nino Godzilla, menurut kami ini jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun kemarau sebelumnya untuk kebakaran yang terjadi di KPH Ngawi,” pungkas Mukhlisin. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>